"Kami hanya ingin menegakkan nilai-nilai Al-Quran dan Al-Hadits"
Pilih kolom :
SANG PENENGAH
vnd.youtube:f5578lNYs8k?vndapp=youtube_mobile&vndclient=mv-google&vndel=watch
Sang penengah :
Pilih kolom :
Pilih kolom :
Pilih kolom :
Rabu, 20 Agustus 2014
Inilah Alasan Anda Harus Kepo dan Tabayyun pada LDII
Inilah Alasan Anda Harus Kepo dan Tabayyun
pada LDII
Pernahkan anda mendengar kata “KEPO”? Kata ini
menjadi populer akhir-akhir ini. KEPO sebenarnya adalah
sebuah singkatan. KEPO merupakan akronim dari Knowing
Every Particular Object. Dalam Bahasa Indonesia, KEPO
adalah sebutan untuk orang yang serba tahu detail dari
sesuatu. Walaupun hanya sekelebat, selama sesuatu itu
lewat dihadapannya, maka ia akan tahu tentang hal itu.
Lalu, pernahkah anda mendengar kata LDII? Singkatan
dari Lembaga Dakwah Islam Indonesia . Orang yang
bertipikal KEPO akan berusaha mencari informasi
sebanyak-banyaknya tentang LDII. Apakah LDII sebuah
makanan? Apakah LDII nama organisasi? atau apa? Tanya
orang KEPO ini dalam hati.
Sumber: Anda KEPO dengan Lembaga Dakwah Islam
Indonesia (LDII)?
Akhirnya berpetualanglah orang KEPO ini. Ia bertanya
kepada Om Google. Tak puas sampai disitu, ia pun
bertanya kepada orang yang ada disekitarnya. Walhasil,
kini sang KEPO telah menemukan seputar info tentang
LDII.
Namun, cukupkah sampai disini? Apakah info yang didapat
melalui internet sudah bisa dipercaya? Apakah info yang
didengar dari orang juga dapat dipercaya? Jawabnya tentu
belum. Nah, disinilah perlunya tabayyun.
Disini, ada 2 tipe orang KEPO. Pertama, orang KEPO yang
tabayyun. Ia mau mencari kebenaran. Dalam bahasa
sehari-hari, ia mau cek and ricek. Ia berpikir logis. Orang
ini berupaya mencari tahu tentang LDII sebab
keheranannya pada LDII yang semakin berkembang
dimana-mana. Ada apa dengan LDII? Secara bersamaan,
ia tetap mengedepankan positive thinking dan klarifikasi.
Ia tidak terjebak pada berita miring. Ia tidak enteng dalam
membenarkan apa yang ia lihat atau dengar dari informan.
Jalan keluarnya ia datang langsung ke tempat pengajian
LDII. Ia ingin buktikan apakah LDII benar-benar jelek
seperti yang diisukan?
Kedua, orang KEPO yang tidak mau bertabayyun. Tatkala
ia mencari tahu tentang LDII, semua infomasi ia lahap.
Ucapan orang yang masih sebatas gosip dimakan mentah-
mentah. Berita miring pun ia masukkan ke benaknya.
Tanpa ada filter yang ia pakai. Apa yang terjadi? Orang
KEPO yang kedua ini akan mempercayai isu yang belum
tentu kebenarannya. Kalau sudah seperti itu, yang akan
muncul dipikirannya adalah sikap antipati dan berburuk
sangka.
Dalam hal ini, KEPO sebenarnya wajar. Selama berada
pada jalur yang benar. Sedangkan tabayyun wajib
hukumnya. Jangan sampai karena kebencian secara
personal membuat kita tidak mau mencari kebenaran yang
sesungguhnya.
Tabayun Untuk Hindari Perpecahan
Tabayyun secara bahasa memiliki arti mencari kejelasan
tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya. Adapun
menurut istilah, tabayyun berarti meneliti dan menyeleksi
berita, tidak tergesa-gesa dalam memutuskan masalah
baik dalam hal hukum atau kebijakan hingga jelas benar
permasalahannya.
Bertabayyun sendiri adalah perintah Allah SWT. Di dalam
kitab suci Alquran, Allah telah berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang pada kalian
orang fasik membawa suatu kabar, maka kalian telitilah,
jangan langsung terima, jika kalian tidak meneliti, kalian
terpengaruh pada kaum yang bodoh dan kalian akan
menyesal pada apa-apa yang kalian kerjakan”. (QS. Al
Hujurot 6).
Disamping itu, untuk menciptakan bangsa yang kuat dan
sejahtera maka kunci suksesnya ialah persatuan dan
kesatuan. Untuk itu, masyarakat haruslah menjauhi
perpecahan.
LDII Didiskreditkan
Tahukah anda bahwa selama ini tak sedikit orang yang
belum tahu LDII malah memberitakan negatif tentang
LDII. “Oh, LDII itu organisasi sesat dan menyesatkan, suka
tukar menukar isteri, kalau masjid LDII dimasuki oleh
orang non-LDII maka masjid itu akan dipel”. Inilah isu
santer yang puluhan tahun berkembang dimasyarakat.
Tidak perlulah penulis menyebut oknum yang kerap
mendiskreditkan LDII. Tak pantas pula menyebut institusi,
website, personal yang kerap membuat berita yang isinya
memecah belah umat islam. Rasanya itu tak perlu. Yang
penting adalah membangun kesadaran untuk saling
menghargai antar sesama. Selama masih sebatas
perbedaan furuiyah, itu sah-sah saja. Yang penting aqidah
kita sama, Allah SWT Tuhan kita dan Nabi Muhammad
adalah utusan Allah.
Tak terkecuali, akhir-akhir ini ada sekelompok orang yang
mengatasnamakan dirinya mantan LDII dengan gencar
menyerang institusi yang dulu pernah mereka ambil ilmu
agamanya. Sebelumnya mereka telah aktif dilingkup LDII,
kemudian disebabkan sesuatu hal mereka lalu pindah
kelain hati. Bahkan, mereka memfitnah LDII. Kebanyakan
motifnya karena sakit hati. Padahal, islam telah
mengajarkan kerukunan dan cinta kasih antar sesama
umat islam.
Sekarang ini mereka sedang bersemangat blusukan ke
beberapa tempat. Tujuannya adalah untuk menantang
debat, menyebar berita bohong dan menanamkan
kebencian kepada masyarakat. Bukannya warga LDII tak
bisa berdebat, namun LDII memperhatikan ukhuwan
islamiyah, wathoniyah dan basyariah. Bagi LDII, bantah-
bantahan bukanlah solusi atas permasalahan. Perdebatan
lebih banyak mudhorot dari pada manfaatnya.
Oknum yang selalu berupaya menyebar fitnah adalah
oknum yang bermaksud melemahkan umat. Mereka tidak
ingin umat islam saling bekerjasama dan rukun. Maka
berhati-hatilah pada orang yang mengaku pernah menjadi
warga LDII, namun diberbagai forum malah memprovokasi
umat Islam.
Sehubungan dengan itu, media pula hendaknya berimbang
dalam membuat berita. Prinsipnya, media supaya tetap
menjaga kerukunan umat. Caranya ialah dengan membuat
berita yang memenuhi unsur cek and ricek, klarifikasi,
verifikasi fakta, dan cover both side. Media massa jangan
memperkeruh suasana.
Argumen yang kita bangun haruslah menggunakan logika
berpikir yang logis. Ide yang kita tawarkan jangan
melompat-lompat dengan hanya mengambil potongan
berita tanpa analisis. Kita sadar tidak semua ucapan
seseorang itu benar. Termasuk, tidak semua tulisan yang
ada dimedia itu valid. Tergantung dari siapa penulis atau
pemilik media. Sebab itulah, tabayyun menjadi urgen.
Selera orang itu bermacam-macam. Ada yang suka Fanta,
ada yang suka Coca-Cola, ada yang suka Teh Botol.
Macam-macam kesukaan orang. Begitupula dengan ormas
LDII. Dimana LDII adalah sebuah wadah. Apapun nama
wadahnya, namun tetap berpedoman pada Quran dan
Hadis maka kebenaran telah menjadi jaminan.
Legalitas LDII
LDII organisasi legal dan bervisi misi yang jelas. Visi LDII :
menjadi organisasi dakwah Islam yang profesional dan
berwawasan luas, mampu membangun potensi insani
dalam mewujudkan manusia Indonesia yang melaksanakan
ibadah kepada Allah, menjalankan tugas sebagai hamba
Allah untuk memakmurkan bumi dan membangun
masyarakat madani yang kompetitif berbasis kejujuran,
amanah, hemat, dan kerja keras, rukun, kompak, dan dapat
bekerjasama yang baik.
Sumber: Surat Rekomendari Kemenag Tentang LDII
Sumber: Fatwa MUI tentang LDII
Sumber: Akta Notaris Pendirian LDII
Sumber: Keputusan Menhukham tentang LDII
Sumber: Inilah NPWP LDII
Sumber: Surat Keterangan Terdaftar (SKT) LDII
Misi LDII : “Memberikan konstribusi nyata dalam
pembangunan bangsa dan negara melalui dakwah,
pengkajian, pemahaman dan penerapan ajaran Islam yang
dilakukan secara menyeluruh, berkesinambungan dan
terintegrasi sesuai peran, posisi, tanggung jawab profesi
sebagai komponen bangsa dalam wadah Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI).
Isu yang Beredar
Dikhalayak ramai, LDII masih dipandang sebelah mata.
Ada pihak yang mengatakan jika orang non-LDII masuk ke
masjid LDII, maka masjid LDII akan dipel. Mari berpikir
secara logis. Jika isu ini memang benar maka orang LDII
adalah orang tersibuk di Indonesia. Sebab mereka akan
mengepel masjid setiap waktu sholat. Betapa berat dan
melelahkan.
Inilah alasan kita harus kroscek. Sebaiknya kita bertanya
lebih lanjut. Apakah memang seperti itu keadaannya? Mari
lihat dan saksikan dengan mata kepala sendiri. Janganlah
kita terjebak dalam politik monolirealitas. Kita
menganggap bahwa kita yang paling benar. Diluar kita
salah. Itu tentu tak benar. Sebab untuk mengukur benar
atau tidaknya sesuatu ada alat ukurnya, yakni standar
baku. Dalam islam, yang menjadi standar baku ialah Quran
dan Hadis.
Untuk mengukur bahwa LDII benar atau tidak maka
pelajarilah Quran dan Hadis. Lalu, teliti apakah yang LDII
lakukan selama ini bertentangan dengan nilai-nilai Quran
dan Hadis atau tidak. Pada faktanya, yang LDII kaji setiap
waktu hanyalah 2 kitab ini.
LDII Jadi Fenomena Abad ke-21
LDII telah membuktikan eksistensinya di Indonesia dan
dunia. Di Indonesia sendiri, LDII turut membantu
pemerintah diberbagai bidang. Mulai dari agama,
pendidikan, ekonomi, sosial budaya dll.
Pada Januari 2014 yang lalu, LDII telah menyebar di 42
negara. LDII pun banyak menjadi pembicaraan hangat
kalangan bawah, menengah hingga atas. LDII ramai
diperbincangkan karena memiliki tujuannya yang mulia,
yakni mengajak manusia untuk memurnikan ibadah
kepada Allah SWT. Harapannya satu, untuk masuk ke
dalam surga dan terhindar dari api neraka.
Makassar, Kamis 6 Februari 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar