"Kami hanya ingin menegakkan nilai-nilai Al-Quran dan Al-Hadits"
Pilih kolom :
SANG PENENGAH
vnd.youtube:f5578lNYs8k?vndapp=youtube_mobile&vndclient=mv-google&vndel=watch
Sang penengah :
Pilih kolom :
Pilih kolom :
Pilih kolom :
Sabtu, 20 September 2014
Kebodohan Akar dari Kesesatan
kesesatan
Kenapa di
dunia ini
banyak
kesesatan
dan
kesyirikan?
Praktek-
praktek
ibadah yang
nampaknya
pol tapi
ternyata
telah jauh
menyimpang dari akidah. Para manusia yang
menyembah patung. Umat yang
mengkeramatkan kuburan. Keyakinan orang
suci yang sudah mati bisa memberikan
karomah dan syafa’at.
Jawabnya adalah karena KEBODOHAN .
Kebodohan adalah akar dari segala
kesesatan dan kemusyrikan di dunia ini.
Mereka adalah umat yang tidak dapat
berpegang teguh pada ajaran Nabi dan Rasul
Alloh. Coba simak ayat Alloh dalam Al-Quran
Surah Nuh ayat 23.
ﻭَﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻟَﺎ ﺗَﺬَﺭُﻥَّ ﺁﻟِﻬَﺘَﻜُﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺬَﺭُﻥَّ
ﻭَﺩًّﺍ ﻭَﻟَﺎ ﺳُﻮَﺍﻋًﺎ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﻐُﻮﺙَ
ﻭَﻳَﻌُﻮﻕَ ﻭَﻧَﺴْﺮًﺍ ( 23 )
Mereka (kaum Nabi Nuh) berkata,”Janganlah
kalian meninggalkan para sesembahan kalian
dan juga jangan meninggalkan Wadd, Suwa’,
Yagutz, Ya’uq dan Naser”.
[SURAH NUH (71) AYAT 23]
Siapakah Wadd, Suwa’, Yagutz, Ya’uq dan
Naser? Mereka adalah orang-orang alim dan
shalih yang semasa hidupnya selalu
membimbing dan memberikan semangat
umatnya untuk beribadah kepada Alloh.
Seteleh semua panutan mereka itu
meninggal dunia, maka para pengikutnya
merasa kehilangan dan khawatir tidak bisa
semangat lagi dalam ibadah.
Maka dibuatlah lukisan atau patung tokoh-
tokoh idola mereka itu dengan tujuan untuk
mengenang ucapan mereka dan perbuatan
baik mereka agar mereka tetap merasa
mendapat tuntunan dan bersemangat dalam
ibadah.
Generasi berikutnya juga masih menyembah
Alloh namun mereka mulai berlebihan
mengagungkan patung-patung tersebut.
Setelah berjalan beberapa generasi
manakala para ahli ilmu, orang alim dan
sholih telah tiada, yang tersisa hanya orang-
orang bodoh. Saat itulah iblis menyesatkan
hati mereka dengan membisikkan,”Orang-
orang tuamu membuat patung ini dengan
tujuan untuk meminta syafaat dari mereka
agar lebih dekat dengan Alloh”.
Akhirnya umat tersebut tersesat dengan
menjadikan patung-patung tersebut sebagai
perantara untuk mendapatkan syafaat di sisi
Alloh.
K ESESATAN Z AMAN AKHIR
Dalam kontek zaman akhir sekarang ini,
penyimpangan akidah adalah akibat umat
yang tidak lagi mau berpegang teguh pada
ajaran Rasulullah salallohu alaihi wassalaam
yang tertuang dalam Kitabillah dan Sunnah
Nabi yaitu Al-Quran dan Al-Hadist.
Umat enggan mempelajari agama Islam dari
sumber aslinya yaitu Quran dan Hadist.
Masyarakat lebih suka mendengarkan
ceramah-ceramah yang menghibur di media
dari pada datang langsung mengkaji Kitab
Alloh dan Sunnah Rasul di masjid. Generasi
muda lebih suka membaca buku-buku
karangan yang tidak jelas sumber dan
kredibilitas pengarangnya dari pada belajar
agama dari ulama-ulama shahih di lembaga
pendidikan Islam, madrasah dan pesantren.
ﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺑَﻌَﺚَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄُﻣِّﻴِّﻴﻦَ
ﺭَﺳُﻮﻟًﺎ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻳَﺘْﻠُﻮ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺁﻳَﺎﺗِﻪِ
ﻭَﻳُﺰَﻛِّﻴﻬِﻢْ ﻭَﻳُﻌَﻠِّﻤُﻬُﻢُ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ
ﻭَﺍﻟْﺤِﻜْﻤَﺔَ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻞُ
ﻟَﻔِﻲ ﺿَﻠَﺎﻝٍ ﻣُﺒِﻴﻦٍ ( 2)
Dia (Alloh) yang mengutus dalam umat yang
BODOH beberapa Utusan dari golongan
mereka, mereka (Utusan) membacakan kepada
umatnya beberapa ayat Alloh dan mensucikan
mereka dan mengajari mereka pada Kitab dan
Hikmah (Sunnah Nabi) dan bahwasannya ada
kalian sebelum itu niscaya dalam kesesatan
yang nyata.
[SURAH JUMU’AH (62) AYAT 2]
Keengganan umat belajar agama dari
sumber aslinya menjadikan mereka mudah
dirasuki pemikiran-pemikiran yang jusru
berlawanan dengan akidah dan syariat Islam.
Kebodohan akan ilmu Quran dan Hadist
membuat orang mudah disesatkan,
dikaburkan pemahaman agamanya sehingga
tidak bisa dibedakan antara benar dan salah.
Banyak orang mengira telah mengamalkan
agama dengan benar namun ternyata
menyimpang dari tuntunan Allah dan
Rasulullah SAW. Perhatikan ayat Allah di
bawah ini:
ﻗُﻞْ ﻫَﻞْ ﻧُﻨَﺒِّﺌُﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟْﺄَﺧْﺴَﺮِﻳﻦَ
ﺃَﻋْﻤَﺎﻟًﺎ ( 103) ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺿَﻞَّ ﺳَﻌْﻴُﻬُﻢْ
ﻓِﻲ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﻫُﻢْ
ﻳَﺤْﺴَﺒُﻮﻥَ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﻳُﺤْﺴِﻨُﻮﻥَ ﺻُﻨْﻌًﺎ
( 104 )
Katakanlah (wahai Muhammad),”Maukah aku
ceritakan pada kalian tentang orang-orang
yang lebih merugi amalan-amalannya? Mereka
orang-orang yang batal segala amalannya di
dunia sedangkan mereka menganggap
memperbaiki amalannya”.
[SURAH AL-KAHFI (18) AYAT 103-104]
Mengkultuskan seorang tokoh yang dianggap
bisa memberi syafaat pada hari kiamat.
Maka kuburannya selalu diziarahi, dimintai
doa, hari kelahiran dan kematiannya
diperingati, benda-benda yang terkait
dengannya diagungkan dan dikeramatkan.
Merasa hanya orang-orang tertentu yang
bisa mendekat pada Alloh sedangkan
manusia pada umumnya tidak akan mampu,
sehingga menjadikan orang-orang khusus
tersebut sebagai perantara untuk
mendekatkan diri kepada Alloh.
Keyakinan bahwa waliyulloh bukan sekedar
perantara agama, namun waliyulloh diyakini
bisa memberikan syafa’at, mengabulkan doa
dan mengampuni dosa seseorang. Seorang
waliyulloh bukan sekedar pemimpin atau
guru besar pembawa hidayah Alloh namun
diyakini waliyulloh bisa memberikan manfaat
dan dapat menyebabkan mudlorot bagi
seseorang.
Semua keyakinan tersebut adalah bentuk
kesesatan dan syirik pada zaman akhir yang
tidak sesuai dengan petunjuk Alloh dan
tuntunan Rasululloh SAW dalam Al-Quran
dan Al-Hadist.
M ENGKAJI Q URAN DAN H ADIST
C EGAH KEBODOHAN DAN
K ESESATAN
Maka tidak dapat ditawar lagi bahwa setiap
individu orang Islam harus mengkaji ajaran
islam secara langsung dari sumber aslinya,
Quran dan Hadist, agar terhindar dari
kebodohan yang dapat menjerumuskan pada
pemikiran-pemikiran, faham-faham dan
pengamalan-pengamalan sesat yang tidak
sesuai dengan tuntunan Alloh dan Rasululloh
SAW.
Mengkaji dan memahami Kitabillah dan
Sunnah Nabi juga akan mencegah umat
mengamalkan agama berdasarkan ro’yinya,
pendapat dan angan-angan sendiri tanpa
dilandasi dalil Quran dan Hadist. Maka ketika
umat meninggalakan ajaran Nabinya dan
mengandalkan ro’yinya maka mereka sesat
dan menyesatkan. Perhatikan hadist Nabi
yang ditulis dalam Musnad Abi Ya’li Al-
Mushali No. 5856.
– 5856 ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺍﻟْﻬُﺬَﻳْﻞُ ﺑْﻦُ
ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢَ ﺍﻟْﺤِﻤَّﺎﻧِﻲُّ، ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻋُﺜْﻤَﺎﻥُ
ﺑْﻦُ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺍﻟﺰُّﻫْﺮِﻱُّ، ﻋَﻦِ
ﺍﻟﺰُّﻫْﺮِﻱِّ، ﻋَﻦْ ﺳَﻌِﻴﺪِ ﺑْﻦِ ﺍﻟْﻤُﺴَﻴِّﺐِ،
ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ، ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺎﻝَ
ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ
ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : « ﺗَﻌْﻤَﻞُ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟْﺄُﻣَّﺔُ ﺑُﺮْﻫَﺔً
ﺑِﻜِﺘَﺎﺏِ ﺍﻟﻠَّﻪِ، ﺛُﻢَّ ﺗَﻌْﻤَﻞُ ﺑُﺮْﻫَﺔً
ﺑِﺴُﻨَّﺔِ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ، ﺛُﻢَّ ﺗَﻌْﻤَﻞُ
ﺑِﺎﻟﺮَّﺃْﻱِ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺑِﺎﻟﺮَّﺃْﻱِ ﻓَﻘَﺪْ
ﺿَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ »
Sesuai dengan Firman Alloh dalam surah
Fatir ayat 28, bahwa orang-orang yang
benar-benar dapat bertaqwa kepada Allah
adalah orang-orang yang berilmu. Orang-
orang bodoh ibadahnya hanya ikut-ikutan
dan berorientasi pada manusia,
pembimbingnya atau pimpinannya.
Amalan-amalan yang berdasarkan pada
Kitabillah dan Sunnah Nabi dijamin benarnya
dan pasti mendapatkan surga.
… ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻳَﺨْﺸَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻣِﻦْ ﻋِﺒَﺎﺩِﻩِ
ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀُ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻋَﺰِﻳﺰٌ ﻏَﻔُﻮﺭٌ ( 28)
…sesungguhnya yang takut kepada Alloh
adalah dari hambaNya yang berilmu
sesungguhnya Alloh Maha Mulya Maha
Pengampun.
[SURAH FATIR (35) AYAT 28]
ﻭَﺃَﻥَّ ﻫَﺬَﺍ ﺻِﺮَﺍﻃِﻲ ﻣُﺴْﺘَﻘِﻴﻤًﺎ
ﻓَﺎﺗَّﺒِﻌُﻮﻩُ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺘَّﺒِﻌُﻮﺍ ﺍﻟﺴُّﺒُﻞَ
ﻓَﺘَﻔَﺮَّﻕَ ﺑِﻜُﻢْ ﻋَﻦْ ﺳَﺒِﻴﻠِﻪِ ﺫَﻟِﻜُﻢْ
ﻭَﺻَّﺎﻛُﻢْ ﺑِﻪِ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗَﺘَّﻘُﻮﻥَ ( 153)
Dan ini (Al-Quran) adalah jalanku yang lurus
maka ikutilah ia, dan janganlah mengikuti
setiap jalan maka akan terpecah belah kalian
dari jalan Alloh, demikian Aku (Alloh)
berwasiat pada kalian agar kalian bertaqwa.
[SURAH AL-ANAM (6) AYAT 153]
– 1874 ﺃَﺧْﺒَﺮَﻧَﺎ ﺃَﺑُﻮ ﻣُﺼْﻌَﺐٍ،
ﻗَﺎﻝَ : ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻣَﺎﻟِﻚٌ؛ ﺃَﻧَّﻪُ ﺑَﻠَﻐَﻪُ، ﺃَﻥَّ
ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ
ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ : ﺗَﺮَﻛْﺖُ ﻓِﻴﻜُﻢْ ﺃَﻣْﺮَﻳْﻦِ،
ﻟَﻦْ ﺗَﻀِﻠُّﻮﺍ ﻣَﺎ ﺗَﻤَﺴَّﻜْﺘُﻢْ ﺑِﻬِﻤَﺎ :
ﻛِﺘَﺎﺏَ ﺍﻟﻠﻪِ , ﻭَﺳُﻨَّﺔَ ﻧَﺒِﻴِّﻪِ ﺻَﻠﻰ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋَﻠَﻴﻪ ﻭَﺳَﻠﻢ.
… Rasulallohi alaihi wasallam bersabda:”Aku
telah tinggalkan dalam kalian dua perkara,
kalian tidak akan tersesat selagi berpegang
teguh pada keduanya: Kitaballoh dan sunnah
NabiNya sholallohi ‘alaihi wasalam.
[HADIST RIWAYAT MALIK]
Kesesatan LDII dan Islam Jamaah
Tag
Islam
Jamaah,
kesesatan
ldii, LDII,
ldii sesat
Twitter 1 Facebook Cetak
Google
Tahun 1970-an MUI (Majelis Ulama
Indonesia) mengeluarkan dua fatwa identik
yaitu Masalah Jama’ah-Khalifah dan Bai,at
yang dianut oleh Jamaah Muslimin Hizbullah
pimpinan Syeh Wali Al Fatah dan Fatwa
tentang Islam Jamaah yang dimotori oleh
KH. Nur Hasan Al-Ubaidah . Kedua fatwa
tersebut memiliki esensi yang sama yaitu:
Masalah Islam jamaah, Baiat dan Khalifah/
Amirul Mukminin.
Dalam fatwa Masalah Jama’ah-Khalifah dan
Bai’at, MUI hanya memberikan keterangan
tentang istilah-istilah: Jama’ah, Khalifah dan
Bai’at namun sama sekali tidak menyatakan
kelompok tersebut menyimpang atau sesat.
Dalam poin 4.1. fatwa tersebut menyatakan:
“Biasanya kalau ajarannya menyimpang hanya
mempunyai pengikut terbatas dan tidak,
berkembang”. Dalam fatwa tersebut MUI
TIDAK mengeluarkan larangan terhadap
aliran tersebut.
Sebaliknya, walaupun memiliki muatan yang
sama persis, Fatwa tentang Islam Jamaah
berisikan larangan terhadap kelompok aliran
tersebut karena dianggap menyimpang atau
sesat.
Fatwa MUI tentang Islam Jamaah akhirnya
terbukti menjadi batu sandungan dalam
kerukunan umat beragama di alam
demokrasi dan kebebasan saat ini. Beberapa
pokok ajaran Islam jamaah yang menjadi
kontrovesi itu adalah:
1. Faham ini menganggap bahwa umat
Islam yang tidak termasuk Islam
Jama’ah adalah termasuk 72 golongan
yang pasti masuk neraka,
2. Umat Islam harus mengangkat “Amirul
Mukminin” yang menjadi pusat pimpinan
dan harus mentaatinya,
3. Umat Islam yang masuk golongan ini
harus dibai’at dan setia kepada “Amirul
Mukminin” dan dijamin masuk surga,
4. Ajaran Islam yang sah dan boleh dituruti
hanya ajaran Islam yang bersumber dari
“Amirul Mukminin”.
5. Pengikut aliran ini harus memutuskan
hubungan dari golongan lain walaupun
orang tuanya sendiri,
6. Tidak sah shalat di belakang orang yang
bukan Islam Jama’ah,
7. Pakaian shalat pengikut Islam Jama’ah
yang tersentuh oleh orang lain yang
bukan pengikutnya harus disucikan,
8. Suami harus mengusahakan agar
isterinya turut masuk golongan Islam
Jama’ah, dan jika tidak mau maka
perkawinannya harus diputuskan,
9. Perkawinan yang sah adalah perkawinan
yang direstui oleh “Amirul Mukminin”,
10. dan khutbah yang sah bila dilafazkan
dalam bahasa Arab.
Semua generasi muda LDII saat ini, yang
tidak tahu menahu tentang Islam Jamaah
ataupun Darul Hadist , merasa bingung, dan
tidak mengerti, bagaimana sebagian oknum
masih mengaitkan keberadaan LDII dengan
aliran Islam jamaah.
PERTAMA , apabila benar bahwa LDII adalah
jelmaan Islam Jamaah maka fatwa MUI
tersebut adalah sesuatu yang perlu
dipertanyakan. Landasan fatwa tersebut
penuh dengan kebohongan, atau pernyataan
yang tidak sesuai dengan fakta. Fatwa
tentang Islam Jamaah dikeluarkan dengan
cukup serampangan. Larangan terhadap
faham Islam Jamaah penuh dengan muatan
politik dan kepentingan-kepentingan
sebagian golongan.
Pernyataan “Bahwa ajaran Islam Jama’ah,
Darul Hadits (atau apapun nama yang
dipakainya) adalah ajaran yang sangat
bertentangan dengan ajaran Islam yang
sebenarnya dan penyiarannya itu memancing-
memancing timbulnya keresahan yang akan
mengganggu kestabilan Negara”, misalnya,
sama sekali tidak sesuai dengan fakta
kondisi LDII. Semua program dan kegiatan
LDII tidak pernah ada satupun yang
berorientasi politik lebih-lebih tujuan untuk
merebut kekuasaan. LDII adalah organisasi
yang menjunjung tinggi dasar negara
Pancasila dan UUD 1945 dan tidak diragukan
lagi loyalitasnya pada pemerintah yang sah.
Fatwa tersebut tidak sesuai dengan fakta itu
sangat logis mengingat fungsi MUI saat itu
yang belum sepenuhnya menjadi
representasi umat Islam namun lebih
sebagai bemper pemerintah orde baru yang
terkenal sangat represif terhadap umat
Islam.
Asumsi KEDUA, apabila fatwa tersebut benar
adanya maka LDII adalah BUKAN Islam
Jamaah. Isu bahwa anggota Islam jamaah
harus memutuskan hubungan dari golongan
lain walaupun orang tuanya sendiri, itu tidak
pernah terjadi di LDII. Ajaran LDII
sebenarnya tidak berbeda dengan
pemahaman umat Islam pada umumnya
yang mewajibkan membina silaturahim dan
hormat serta taat pada kedua orang tua.
Saat inipun bisa dibuktikan, banyak keluarga
jamaah LDII yang campuran, terdiri dari
berbagai keyakinan namun tetap hidup
berdampingan, rukun, dan harmonis.
Jika ada yang bertanya apakah LDII
berbentuk jamaah? Jawabnya tidak
diragukan lagi, YA!
Semua organisasi massa Islam di dunia ini
adalah jamaah. Berjamaah adalah perintah
wajib yang harus dilaksanakan oleh umat
Islam. Jamaah adalah rahmat dan
perpecahan adalah azab.
ﻛﻘﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ :
«ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺭﺣﻤﺔ ﻭﺍﻟﻔُﺮْﻗَﺔْ
ﻋﺬﺍﺏ »
…sebagaimana sabda Nabi SAW: “Jamaah
adalah rahmat dan perpecahan adalah azab”.
ﺑَﺎﺏُ ﻣَﺎ ﺟَﺎﺀَ ﻓِﻲ ﻟُﺰُﻭﻡِ ﺍﻟﺠَﻤَﺎﻋَﺔِ
…، ﻣَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺑُﺤْﺒُﻮﺣَﺔَ ﺍﻟﺠَﻨَّﺔِ
ﻓَﻠْﻴَﻠْﺰَﻡُ ﺍﻟﺠَﻤَﺎﻋَﺔَ،*… [ ﺳﻨﻦ
ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﻔِﺘَﻦِ ]
[ ﺣﻜﻢ ﺍﻷﻟﺒﺎﻧﻲ ] : ﺻﺤﻴﺢ
Barang siapa ingin di tengah-tengah Surga
maka tetapilah jamaah
Jamaah adalah perkumpulan umat Islam
yang didalamnya diangkat seorang pemimpin
dan masing-masing terikat dalam norma-
norma dan aturan-aturan agama. Inti dari
jamaah adalah PERSATUAN dan KEKUATAN.
Oknum-oknum yang benci jamaah tidak lain
adalah musuh Islam yang tidak ingin melihat
umat Islam bersatu dan kuat.
Apa jadinya kalau setiap orang Islam maunya
beribadah sendiri-sendiri, tidak mau
mengikatkan diri dalam perkumpulan umat
Islam (Jamiatul Muslimin), tidak merasa
memiliki pemimpin, tidak mau diatur dengan
norma-norma, nilai-nilai yang berlandaskan
Al-Quran dan Al-Hadist? Dapat dipastikan
bahwa satu generasi ke depan Islam hanya
akan tinggal namanya karena itulah firqoh,
pecah belah.
Kekuatan Islam bukan karena banyaknya
orang Islam. Kekuatan Islam ada di
organisai-organisasi Islam. Tanpa ikatan
organisasi yang terpimpin, umat Islam akan
terpecah belah tidak memiliki kekuatan serta
mudah diombang-ambingkan dan gampang
dihancurkan. Islam telah tercerai-berai
bahkan bentuknyapun tidak kelihatan.
Bentuk asli Islam adalah JAMAAH. Bukan
Islam kalau tidak berjamaah.
Karena itu, jargon Ustadz Nur Maulana di TV
bukanlah banyolan murahan penyegar
suasana. Namun itu adalah kalimat mukjizat
yang akan mempersatukan seluruh umat
Islam di dunia.
“Jamaa…. h, o, jamaah”
Langganan:
Komentar (Atom)